Corat-coret

Senin, 30 Juni 2014

SADAR

Begitu pelik dan rumit apa yang membelit dalam pikiranmu (mungkin). Hingga kau merasakan kebuntuan yang menyesakkan dadamu, atau hampir memecahkan kepalamu (mungkin). Tidak ada jalan, bernafaspun sulit, makan tidak enak, tidur tidak nyenyak (mungkin). Kau butuh seseorang untuk menumpahkan semua kegelisahanmu, tapi orang yag kau temukan justru makin menyudutkanmu (mungkin). Kau rasa putus asa, hilang akal, hilang nafsu. Disekelilingmu hanya ada orang-orang yang kau benci, ingin kau pukul, kau tendang, atau kau bunuh satu persatu (mungkin). Tapi, tiba-tiba kau diam, merenungkan kebodohanmu, menemukan jawaban atas kegalauanmu, dan hari kembali biru setelah sekian lama kelabu (mungkin).
Bukankah semua orang pernah begitu? (mungkin)

Kamis, 26 Juni 2014

My Special Friend

Selamat ulang tahun sayang... Semoga tambah berkah usianya, banyak rezekinya, makin sehat badannya, dan semoga Allah selalu melindungimu dalam setiap langkahmu. "Tiada rangkaian kata indah nan puitis yang mampu kupersembahkan, tiada syair romantis yang mampu kunyanyikan, namun jika kau tanya mengapa aku tersenyum pagi ini, maka jawaban terbaik yang dapat kuungkapkan adalah karena ku tahu kau bahagia bersama orang-orang yang mencintaimu. Happy birthday and wish you all the best."

Sabtu, 14 Juni 2014

Ego

Aku rasa aku hanya merasa takut. Ketakutan yang membuatku terlihat bodoh, mungkin. Ya, aku takut. Ketika aku mulai masuk kearea nyaman ini, lalu aku harus kembali merasakan sakit. Kesakitan yang tak terlihat kasat, tapi ada luka yang membekas begitu lama. Ego yang membuatku mengatakan bahwa aku memilihnya dan ia harus memilihku. Ego yang membuatku berpikir bahwa kau milikku dan kau harus memilihku. Aku payah karena keegoan ini. Ego yang membuat tiap malam begitu sesak hingga aku tak bisa tidur. Sampai kapan? Sampai kapan aku diperbudak keegoanku?
Menunggu...

Minggu, 11 Mei 2014

Bersamanya

Bersama cinta aku belajar tahu. Bersama cinta aku belajar kenal. Bersama cinta aku belajar cinta. Bersama cinta aku belajar bahagia. Bersama cinta aku belajar memiliki dan merelakannya pergi.

BIAS

Redup malam yang tak mendapat bias rembulan. Dalam kekosongan, aku duduk dan menikmati tiap alunan suara alam yang menenangkan. Bukan, tentu aku bukan menikmati kesendirian, aku hanya sembunyi dari keramaian. Ramai begitu kejam. Hingga aku teringat tentang ribuan kisah ramai yang berakhir kesakitan. Ya, bukan tanpa alasan aku sendiri. Aku hanya sedang berbincang sebuah kisah lucu pada alam, tentang seseorang yang tlah membuatku tak bisa tidur, tentang seseorang yang terpaku di pikiranku, tentang seseorang yang membuatku menanti ucapan 'selamat pagi'.

Kamis, 27 Maret 2014

Bintang Kehidupan

Tidak perlu kusebutkan namanya, kunamai dia Bintang. Dia seorang anak laki-laki berusia 8 tahun. Tubuhnya tidak tinggi seperti teman-teman sebayanya, badannya juga kurus seperti tidak terurus, pakaiannya lusuh, agak pudar, seperti baju yang sudah lama sekali, atau bahkan seperti baju bekas. Ada hal lain yang berbeda ketika aku bertemu dengannya dalam sebuah lingkungan belajar. Saat itu kuberikan murid-muridku tugas menulis beberapa kata dalam bahasa arab beserta artinya. Tidak banyak, hanya 5 kata. Saat yang lain menulis, ia masih saja sibuk mencari-cari pinjaman pensil. Agak lama dia mencari pinjaman, kuperhatikan dia tidak juga mendapatkan pinjaman. Kupinjamkan dia pulpen yang kupakai untuk menilai. Kira-kira 30 menit aku menunggu, hampir semua muridku telah mengumpulkan tulisannya. Hanya ada satu murid yang belum juga mengumpulkan, ya dia adalah Bintang. Karena penasaran, kuperhatikan apa yang dia tulis, mengapa begitu lama menulis 5 kosa kata. Terkejut aku melihatnya, dia menulis kata dalam bahasa arab dari arah yang tidak semestinya, kalau orang-orang menulis dari depan ke belakang Bintang menulis dari belakang ke depan, tulisannya pun seperti anak TK yang baru belajar menulis. Tidak langsung kutegur apa yang dilakukannya. Kutunggu dengan sabar sampai ia selesai menulis, teman-teman yang lain dibuat kesal karena mereka juga harus menunggu Bintang selesai menulis. Dan selesailah dia 30 menit selanjutnya. Pelajaran selesai, murid-muridku kembali ke rumahnya masing-masing, lalu kunilai tiap tulisan yang tadi dibuat.Masih penasaran apa yang terjadi pada Bintang, apakah dia tidak pernah belajar menulis sebelumnya?. Penasaran dengan jawaban atas pertanyaanku, aku tanyakan pada guru lainnya di kelompok belajar itu, maklum saja aku baru ikut bergabung dengan kelompok belajar ini. Setelah kutanya, ternyata Bintang adalah anak dari seorang ibu yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga, ayahnya telah lama meninggal ketika Bintang belum sekolah. Dulu, semasa hidupnyapun ayahnya hanya bekerja sebagai tukang becak. Orang tuanya tidak pernah punya waktu mengajarkan dia menulis, untuk membeli alat tulisnya pun susah. Terlebih lagi setelah ayahnya meninggal, Bintang dengan tubuh mungilnya harus membantu ibunya menjadi penjual kantong plastik di pasar untuk memberi makan adik perempuannya yang masih balita. Dia tidak punya waktu untuk belajar di rumah. Bahkan dia harus putus sekolah karena orangtuanya tidak sanggup jika terus di panggil karena buruknya nilai Bintang di sekolah, terbayang, menulis saja dia sulit. Setelah hari itu aku banyak belajar, dan mengerti, disela kehidupannya yang sulit itu dia masih semangat belajar agama, kuhargai itu, aku akan belajar lebih sabar dalam menghadapinya, belajar menjadi sabar seperti Bintang. Bahagianya, ketika melihat Bintang masih dapat tersenyum, bercanda, dan tertawa bersama teman-temannya. Tidak ada rasa minder, dan tetap bersemangat belajar. Jangan pudarkan sinarmu Bintang. Tetaplah belajar murid superku, pancarkan sinar bahagia di mata indahmu, dan jadikan orang-orang bahagia karena itu.

Senin, 24 Maret 2014

Bahagia

Sungguh bahagia jadi diriku. Bertemu dengan orang-orang yang begitu peduli. Kedua orangtuaku, Mamaku yang selalu sedia menyiapkan sarapan pagi, mendoakan aku tiap malam, memarahi aku ketika aku mulai berulah. Bapak yang selalu membantuku secara tenaga, financial, dan moral. Bisa dikatakan bapakku itu superheroku, bapak selalu meluangkan waktu untuk mengantar dan menjemputku, ketika aku harus pulang malam karena kesibukan kuliah, bapak yang juga kutahu telah lelah bekerja masih mau meluangkan waktunya untuk menjemputku. Meskipun sering bawel, kedua orang tuaku adalah orangtua terbaik di seluruh jagat raya. Aku tau tiap omelan dan cubitan yang pernah kudapat adalah untuk kebaikanku. Mereka mengajarkan aku untuk menjadi pribadi seorang dewasa yang baik, mengajarkan aku tentang kesabaran, kejujuran, pantang menyerah, percaya diri dan banyak hal lainnya yang tak mampu kuuraikan semuanya. Kedua orangtuaku, mereka adalah guruku, pahlawanku, sahabatku, bahkan hidupku sendiri. Aku hanya ketiadaan jika kau tiada... Aku ingin membuat mereka tersenyum dengan senyumku, dengan keberhasilanku, dengan wujud cintaku.